Sebuah Perubahan

10.00

Tiga tahun berjuang mendirikan blog tentu bukan sebuah waktu yang singkat. Gue memulai usaha ini ketika melihat sebuah buku terampang dengan gagah di deretan best seller salah satu Gramedia Jakarta, yang berjudul: Shitlicious

Tidak butuh waktu lama bagi gue untuk mengurungkan niat membeli beberapa komik terbaru hari itu, untuk diganti dengan satu buah buku yang merupakan karangan Alit Susanto tersebut. 

Setelah menyelesaikan membaca dalam satu hari, gue langsung jatuh cinta dengan sosok Alit Susanto, mulai dari caranya bercerita, hingga guyonan khas kasarnya yang berhasil membuat gue terpingkal.

Gue juga menelusuri sosial media Alit lebih jauh dan berakhir di blog pribadinya. Gue semakin mencintai sosoknya setelah membaca beberapa artikel yang ditulisnya. Dari artikel yang gue baca, ada beberapa artikel yang ditulis untuk mendorong para anak muda untuk berkarya dalam medium blog, yang setelah gue pertimbangkan, "kenapa tidak?" Dan menjadi cikal bakal lahirnya blog yang kalian baca sekarang.

**

Singkat cerita, tiga tahun gue belajar hal-hal tentang blogging dari nol. Gue membaca beberapa panduan di website dan membeli buku-buku tutorial. Kadang gue juga membaca kultwit dari para blogger profesional yang suka membagikan ilmu nya di media sosial.

Seiring waktu berjalan tulisan gue yang awalnya menyedihkan dapat bertansformasi menjadi suatu lelucon yang tidak terlalu menyedihkan. Bahkan ada artikel yang sukses menjadi Hot Thread di Kaskus. Dan gue cukup bangga.

Namun selain pencapain diatas, rasanya tidak ada hal lain yang dapat terlalu dibanggakan. pengunjung blog gue gitu-gitu aja, tidak lebih dari seratus orang sehari dalam rentang waktu tiga tahun. Lalu gue juga beberapa kali mengikuti lomba blog, namun tidak pernah menang sekalipun. Dan yang paling parah, ketika memasuki tahun kedua nge-blog, gue susah sekali menetaskan tulisan baru - bahkan tulisan ini berjarak hampir satu tahun dari artikel sebelumnya!

Banyak hal yang bisa gue salahkan untuk mejawab inkosistensi yang gue alami. Yang pertama jelas menyalahkan rutinitas pelajar kelas 3 SMA yang padat. Kadang gue juga beralasan bahwa gue masih kurang mempelajari cara penulisan komedi, sehingga tulisan gue masih kurang se-wah para blogger komedi yang telah lebih dulu berkarya. Dan setelah bertubi-tubi kegagalan, gue akhirnya dapat untuk jujur dengan diri sendiri, bahwa sebenarnya gue tidak bisa menulis komedi.

Gue sadar kalo enggak bisa menulis komedi hanya bermodalkan impian untuk menjadi para blogger komedi lain yang sudah sukses terlebih dulu. Gue enggak bisa langsung menjiplak gaya setiap penulis komedi yang gue baca karya-nya.

Raditya Dika punya komedi khas patah hati yang dimana dia dapat menyulap kegalauan menjadi lelucon, Kevin Anggara punya ciri kekonyolan anak SMA yang melekat padanya. Bahkan meski Alit Susanto sering menangkat tema yang random, gue menyadari dia selalu menyelipkan komedi kasar (frontal) di setiap tulisannya, yang entah kenapa brilian. Dan ketika gue mencoba mencontoh tulisan mereka satu-persatu, yang gue temukan hanyalah sebuah gaya tulisan tidak jelas yang sedang mencoba melewati masa pubernya selama tiga tahun.

Akhirnya, gue mendapat sebuah konklusi yang seharusnya gue sadari terlebih dulu, bahwa gue sebenarnya tidak mempunyai bakat menulis komedi. 

Dan seiring waktu, gue menjadi lebih suka dengan artikel-artikel serius yang membahas tentang bisnis atau politik. Gue juga mulai membeli beberapa buku-buku biografi para orang terkenal yang menurut gue sangat menarik. Puncaknya, gue mengambil kuliah Hukum, yang berarti sesuatu yang kaku dan tidak memiliki banyak celah untuk komedi.

Ya, blog ini menjadi kisah gue selama tiga tahun untuk menjadi orang lain, namun akhirnya hanya menemui kebuntuan. Gue sekarang mengerti kenapa sangat susah untuk membuat satu tulisan peeminggu: karena gue enggak suka temanya, maka gue enggan menulis.



Dan sekarang setelah semua menjadi jelas, gue memutuskan untuk mengubah beberapa hal:

Tidak ada lagi tulisan dengan tema absrud
Mulai sekarang, gue akan mencoba untuk menulis lebih serius. Gue akan mengangkat topik seperti politik dan hukum di tulisan berikutnya. Jadi gue meminta maaf kepada beberapa dari kalian yang ternyata menyukai komedi gue, bahwa tidak ada lagi tulisan seperti itu selanjutnya.

Namun sekali-kali gue akan mencoba menulis komedi, dengan gaya yang lebih dewasa
Gue masih mencintai perasaan tertawa lepas ketika membaca suatu tulisan yang sangat lucu. Namun sudah cukup semua usaha untuk meniru para komedian. Mulai sekarang gue akan mencoba untuk menulis dengan gaya gue sendiri. Dan gue berjanji kalian akan menemukannya di artikel komedi berikutnya.

Mengubah frasa "gue" menjadi "saya"
Ya, benar. Mulai sekarang, tidak ada lagi kata-kata "gue". Hal tersebut saya lakukan untuk membuktikan kedewasaan saya dan menunjukkan ciri khas dari blog ini. Namun tenang, saya hanya mengubah cara menyebut diri saya sendiri dalam bentuk yang lebih sopan. Itu tidak akan mengubah pribadi saya menjadi seperti orang tua yang menyebalkan.

Akhirnya, saya harus menyadari bahwa tiga tahun kerja keras saya mengajarkan saya dengan keras untuk tidak menjiplak orang lain secara blak-blakan. Saya harus berubah, meski perubahan memanglah tidak menyenangkan. Namun yang pasti, saya akan berusaha dengan keras. Sangat keras.

Sekaras ajakan pacar untuk menikah karena keburu hamil.

You Might Also Like

4 Komentar

  1. Good luck, gw juga mencoba beberapa perubahan dari blog dengan nama samaran macam-macam arief pocong akhirnya pake nama sendiri dicantumin di blog, let's try bro

    BalasHapus
  2. I feel you.

    Karena gue pribadi juga pernah merasakan hal yang sama. Gue ngeblog dari tahun 2009, tapi bari nemu gaya tulisan atau lebih tepatnya menulis tanpa harus mencontek dulu tulisan orang lain baru 2 tahun ke belakang. Jadi gue baru nemu gaya tulisan gue sendiri nggak lama ini.

    Karena tekad gue pengin terus ngeblog ini masih dan mudah-mudahan terus menggebu, jadi gue bikin blog baru lagi, dengan personal branding yang berbeda dan lebih personal, begitupun isi dari blognya.

    Perihal tentang tema blog atau tulisan yang disajikan di blog itu kayaknya jangan takut kehilangan pembaca, karena setiap segmen tulisan itu pasti punya pembacanya masing-masing. Inget itu aja, dude. Gue pun sekarang kayak gitu. Hehe

    Nice post. Sorry jadi ikutan posting juga di sini haha

    BalasHapus
  3. menentukan kata ganti orang pertama agak sulit. aku sendiri menggunakan nama kecil sebagai kat aganti orangpertama. tapi menjelang kepala dua mungkin ada baiknya pakai kata 'saya' juga :)

    BalasHapus

Mari berkomentar agar hati senang

Subscribe