Tentang Sebuah Karya dan Kritik Yang Selalu Menghantui

10.57

Gue percaya sebuah karya yang baik bermula dari kerja keras, dedikasi, dan mental kuat si kreator untuk selalu memperbaiki karya-nya menjadi lebih baik. Kritik merupakan sarana yang paling nyata. Tanpa kritik, sebuah karya enggak bisa menjadi "mahakarya".

Nah, sebuah kritik menurut gue dapat dibedakan menurut cara sang kreator menanggapi: menerima atau enggak. Bagi yang menerima kritik sebagai pembangun dari sebuah karya, kreator tersebut akan bersikap kritis terhadap kritik yang masuk. Mereka akan bersemangat untuk terus berkarya lebih bagus lagi. Setidaknya itu yang sering gue dengar.

Yang payah, adalah sebaliknya. Kritik akan menjadi seperti sebuah hinaan luar biasa kalo kreator itu enggan menerima, bahkan buat mendengar kritik itu aja dia malas. Dan gue heran, kenapa orang kayak gini mau jadi kreator.

Nah, mari kita ke inti kenapa gue ngomong kayak diatas.

Baru-baru ini, gue dengar Dijah Yellow (gue beneran pengen tahu asal usul namanya) mengeluarkan sebuah novel yang berjudul "Rembulan Love". Novel ini termasuk mahal, karena dibanderol seharga 145.000 Rupiah. Dihargai mahal, karena menurut pengakuan Dijah Yellow melalui tweetnya, adalah karena novel-nya unik dan beda dari yang lain (walau sampai meditasi gue sudah mencapai malam ketujuh, tapi masih belum menemukan keunikan novelnya).

Gue, seorang yang sangat mencintai buku -- Dapat dibilang begitu karena sudah banyak novel erotis yang telah gue baca -- tentu tertarik dengan novelnya. Hipotesis awal gue mengenai harga buku, gue berpikir pasti novelnya amat bagus, sampai-sampai harga-nya semahal itu.

Tapi saat mencari tahu cara buat beli novel Dijah Yellow, gue lumayan terkejut saat tahu dia menerbitkan buku lewat jalur self-publishing, yaitu menerbitkan buku sendiri. Buat yang belum kenal dengan self-publishing, gue kasih contoh dibawah:

Sebuah buku jika ingin diterbitkan melalui penerbit, biasanya akan mengalami skema:

Penulis nulis naskah -> naskah dikirim ke penerbit -> penerbit menilai dan menyampaikan hasilnya, antara diterima atau ditolak -> kalo diterima, penerbit akan memberi tahu penulis bagian yang akan direvisi, lalu setelah direvisi naskah baru akan diterbitkan.

Nah, kalo self-publishing:
Penulis nulis naskah -> naskah dikirim ke penerbit self-publishing -> penulis menyampaikan mau seperti apa cover buku-nya, seperti apa ukuran kertasnya, lalu membayar sejumlah uang untuk penerbit sesuai kesepatakan -> buku siap dijual

Sebagai catatan, naskah-naskah yang dikirimkan ke penerbit self-publishing, selama di dalam naskah tidak terkandung pornografi, rasisme, atau SARA, pasti akan diterbitkan dan tidak akan ditolak.

Nah kembali ke novel Dijah Yellow, gue enggak berpikiran novelnya buruk meski terbit lewat jalur self-publishing. Gue juga enggak menganggap bahwa orang-orang yang naskah-nya enggak berkualitas menerbitkan jalurnya secara indie. Enggak. Toh banyak penulis hebat yang menerbitkan karya-nya lewat indie, dengan lasan supaya keuntungan yang didapat lebih besar, dan gue menganggap Dijah Yellow salah satu dari itu.

Dan puncaknya, sampai saat gue membaca. Sampel novelnya.


Jujur, membaca sinopsisnya aja gue udah sedikit ragu. Dan saat lanjut ke halaman berikut, gue jadi enggak ragu lagi. Pasti bukan karena masalah untung-nya, Dijah Yellow nerbitin novel lewat indie.


Yah, bahasa-nya. Gimana gitu. 

Baru sekali ini gue menemukan novel yang didalamnya ada huruf "^_^". 

Mungkin ini tren baru untuk penulis novel?

Semoga enggak.

Atas dasar ini, gue memberi kritik kepada mbak Dijah Yellow. Dan mungkin, kritik gue agak kasar.


Oke, gue emang kasar

Setelah beberapa tweet yang berisi kritikan, alih-alih tweet barusan dibalas, gue malah di-block. Gue kaget, enggak habis pikir kenapa "penulis" satu ini. Setelah mendapat beberapa penjelasan dari teman-teman di Twitter yang juga di-block oleh Dijah Yellow, akhirnya gue tahu kalo si Dijah Yellow suka nge-block orang yang enggak dia suka. 

Oke, itu enggak masalah. Twitter milik semua. Gue juga suka nge-block akun-akun yang gue anggap nyampah atau kalo pernah twit war dengan gue. Repot. Daripada gue ladenin tuh akun dan nanti malah berantem di dunia nyata, apalagi di Senayan, mendingan gue block. Selesai. Gue setuju sama Dijah Yellow yang ini. Tapi kalo soal karya? Beda cerita.

Sampai sekarang, gue masih kaget karena baru ini gue menemukan orang yang enggak mau karya-nya diktirik. Yah, mungkin karena gue juga kali ya, berpikir kalo semua penulis menerima kritik, seperti Raditya Dika, Bernard Batubara, mas A.S Laksana, dan beberapa penulis wahid lainnya. Gue harusnya tahu ada juga yang enggak mau dikritik. 

Tapi intinya, gue respect dengan Dijah Yellow. Gue enggak menyesal telah mengkritik karnya Dijah Yellow, karena dengan mengkritik berarti gue juga telah mengapresiasi bukunya, sebagai seorang penikmat karya. Dan untuk keputusannya menerima atau enggak, itu hak dia. 

Dan sebagai tambahan, kemarin karena sedikit kesal, dengan nada sarkasme, gue bertanya kepada Vicky Vette.(buat yang belum tahu siapa dia, Vicky Vette adalah artis mancanegara -- bisa dibilang begitu, dan sebaiknya memang dianggap demikian. Vicky pernah bermain di salah satu film lebar di Indonesia).  Gue bertanya apakah jika buku Dijah Yellow diadaptasi ke dalam film lebar, apakah dia ingin bermain sebagai salah satu peran.

Dan ternyata. Tweet gue dibales.

Demi keamanan dan agar blog ini tidak di-blok Menkominfo, gue terpaksa
menutupi username. Tolonglah teman-teman, jangan malah di-google.

Sebagai penutup, sekali gue tegaskan mendukung segala keputusan Mbak Dijah Yellow. Semoga buku-nya laku dan benar-benar diadaptasi ke layar lebar. Gue benar-benar mengharapkan.
Masalahnya dengan kebanyakan dari kita adalah bahwa kita akan lebih hancur oleh pujian dari diselamatkan oleh kritik. -Norman Vincent Peale

You Might Also Like

8 Komentar

  1. yah. kemarin juga heboh sih di instagram soal penjualan buku dijah yellow. cuma gua baru tau kalau harganya semahal itu. mungkin karena self-publishing sih ya. tapi setelah membaca bab awal tadi, harga segitu gak pantas dengan kualitas novelnya.

    btw, vicky vette kenal dijah yellow? hmm. ternyata dia bener2 artis internasional -_-.
    oh ya, lo beli novelnya ya? kok bisa dapet tulisannya?

    BalasHapus
  2. jadi seniman juga harus instropeksi diri juga dengan karyanya.
    BTW ditunggu filmnya :v

    BalasHapus
  3. gue rasa ada yang salah sama si dijah, karena setiap karya yang dilempar ke publik ya mau nggak mau harus terimalah kalo dikritik. hadeuuh.

    BalasHapus
  4. Banyak yang salah dari Dijahyellow, tapi kemauannya untuk nerbitin novel meskipun self-publishing gue akuin. Kita, seharusnya juga harus punya kemauan yang kuat seperti mbak Dijah, untuk menghasilkan karya yang lebih baik.


    Anyway. Vicky vette asal nyebut aja itu. pokoknya kalo main film mah dapet duit, jadi dia mau mau aja. hahahak. gue jadi ngebayangin Vicky vette meranin karakter Dijahyellow. Bhahahnjing!!!

    BalasHapus
  5. harganya lebih mahal dari buku JK Rowling.. ._.
    sepertinya harus menunggu sinopsis mengenai bukunya nih -_-"
    untuk kritikan sendiri bukannya itu tanda kepeduliaan dari orang lain, parah dia terbutakan oleh "singkirkan ya lain, gue adalah gue"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, itu juga yang gue pikir. Kalo orang lain kritik, berarti orang lain berharap karyanya bisa leih baik.

      Ya, tapi sudahlah. Setiap orang beda.

      Hapus
  6. agak penasaran sih sama bukunya, penasaran sama cara merangkai kata-nya. tp kalau dipikir-pikir Dijjah Yellow punya semangat yg bagus ya? nulis novel cuma 10 hari. itu emang bener-bener Niat :D

    BalasHapus
  7. aku rasa si dijah ni emang agak beda dari orang normal lainnya. Kita juga bisa liat dari aktivitas dia di medsos yang agak aneh. itulah dijah dengan kepribadiannya. Maklum aja orang kaya gitu. Mau kita ngomong apapun bakal salah terus di mata dia.

    BalasHapus

Mari berkomentar agar hati senang

Subscribe