Carut Marut Sistem Pendidikan di Negeri Kita

18.03

Gue membuat posting ini didasari rasa jenuh yang teramat gila terhadap sistem pendidikan kita. Sistem pendidikan yang selalu memaksa gue ngerjain pr setiap hari, ulangan tiap minggu, pulang sore selama enam hari dalam seminggu.

Gue bukan Pak Anies Baswedan, yang pengetahuan tentang pendidikannya sangat tinggi. Bukan juga pengamat pendidikan atau dosen-dosen yang punya ilmu yang tinggi. Gue disini, hanya akan bicara soal pendidikan dari perspektif gue, yaitu seorang perspektif seorang pelajar.

Semua dimulai dari kurikulum 2013, yang tercipta dua tahun lalu dan diterapkan pada beberapa sekolah pilihan di Indonesia. Kebetulan, sekolah gue terpilih sebagai salah satu sekolah di Palembang yang ikut menerapkan kurikulum tersebut. Antara senang atau galau. Karena disamping bisa pertama mencicipi kurikulum 2013, kami juga yang pertama akan menghadapi kengerian di dalamnya. Dan ternyata, skenario yang terburuk terjadi.

Berikut gue akan menceritakan beberapa hal yang terjadi dalam penerapan kurikulum baru di sekolah gue, yang menurut gue pribadi merupakan awal Carut Marut Sistem Pendidikan di Negeri Kita:

1. Pasokan Buku yang Kurang
Ini baru terjadi di sekolah gue. Semester pertama tahun lalu, pasokan buku cetak tiap siswa aman-aman saja. Tetapi masuk semester dua, kami mendapat info dari bahwa buku cetak yang dikirim oleh pemerintah jumlahnya kurang, sehingga kami enggak boleh membawa pulang buku cetak, dan harus memakai sistem "pinjam-balikin" ke perpustakaan setiap memasuki pelajaran yang buku cetaknya kurang. Repot bukan? Sangat.

Belom lagi menjelang ulangan. Gimana caranya untuk gue, yang udah belajar dari satu bulan lalu sebelum ulangan pun masih belom tuntas, sekarang harus belajar hanya ngandalin buku catatan? Berarti untuk belajar dari buku catatan, gue harus menyalin buku cetak, kan? Kalo memang begitu kenyatannya, berarti kita sekarang mengalami kemunduran. Dimana kita harus menyalin semua yang ada di buku cetak.

Kalo emang enggak kuat, kenapa kebijakan ini harus dipaksakan? Harusnya sekolah boleh mengambil buku pelajaran dari sumber lain, ketimbang harus menggunakan sistem "pinjem-balikin" ini.


2. Tugas Yang Menumpuk
Kalo enggak salah, gue pernah dengar bahwa salah satu misi dari kurikulum ini adalah untuk menggenjot kreativitas siswa. Kalo emang yang gue dengar benar, gue pasti langsung bingung. Dimana sisi kreativitasnya? Apa ngitungin angka yang jumlahnya ratusan ribu dan hafalin ratusan rumus dapat dikatakan untuk membuat kita kreatif? It's not. Big no.

Sebagai salah satu pecinta seni, gue berpendapat bahwa itu semua bukan usaha untuk memajukan kreativitas. Itu pembunuh kreativitas. Orang awam pun tahu, bahwa seni itu contohnya seperti musik, film, atau tulisan. Bukan rumus-rumus mengerikan itu. Dan gimana caranya untuk membuat siswa kreatif, jika kami tiap harinya dijejali dengan bertumpuk-tumpuk tugas yang terpaksa guru berikan mengacu kepada kurikulum 2013?


3. Dinding Pembatas IPA dan IPS Makin Kabur
Dulu semasa belum masuk SMA, gue berpikir bila gue masuk kelas IPA, nantinya gak perlu belajar pelajaran IPS lagi. Namun nyatanya gue harus kecewa. Ekonomi dan Sejarah termasuk dari salah satu pelajaran yang gue pelajari. Rasanya agak aneh.

Ya memang sih, di kurikulum 2013 pelajaran ini dimasukkan dalam kategori "lintas minat". Tapi walaupun lintas minat, pelajaran ini tetap harus dituntaskan kalo pengen naik kelas. Sadis rasanya kalo enggak bisa naik kelas karena dua pelajaran ini merah. Senasib dengan kelas IPA, kelas IPS juga terpaksa merasakan pelajaran anak IPA, seperti Fisika dan Biologi. Bayangin aja gimana ruwetnya anak IPS, yang setiap hari kerjanya hafalin ilmu-ilmu ekonomi dan ngitungin uang, sekarang harus hafal rumus yang jumlahnya puluhan.

Kalo emang "supaya siswa tambah pinter" dijadikan sebagai dalih, kenapa enggak sekalian gabungin kelas IPA dan IPS jadi satu, supaya siswa disuruh belajar semuanya, lalu semakin jadi terzolomi?


Sebagai penutup, gue inget dulu Bapak M. Nuh pernah mengatakan rencana yang sangat mengerikan kala masih menjabat sebagai Menteri Pendidikan, "Jam belajar kita masih kurang. Masih kalah jauh dibanding negara lain. Maka dari itu untuk kedepannya kita akan tambah jam belajar bertahap." Dan setelah mendengar statment tersebut, gue sangat bersyukur beliau enggak terpilih lagi jadi menteri pendidikan.

Apakah enam hari sekolah, tujuh jam belajar sehari masih pantas dibilang kurang lama? Belum lagi ditambah pr dan belajar di rumah untuk ulangan besok, apa masih perlu jam belajar ditambah lagi? Apakah tidak ada lagi yang lebih penting dari belajar? Memang ada peribahasa ilmu adalah jendela dunia, tapi rasanya kita hidup di dunia ini bukan semata untuk belajar. 

Namun Kita hidup untuk hal yang jauh lebih besar, yaitu untuk kemanusiaan.  Nilai-nilai yang sangat berharga untuk membentuk seseorang menjadi manusia sejati. Manusia yang selalu dapat menghadapi berbagai tekanan, dan tidak akan kalah begitu mendapat masalah yang tidak pernah diajarkan di sekolah.

Ini semua adalah tantangan untuk Pak Anies. Sebuah tugas berat untuk merubah sistem pendidikan kita yang semula menghasilkan manusia-manusia bermental penakut, menjadi sebuah sistem yang dapat melahirkan para manusia hebat, manusia dengan nilai kemanusiaan yang tinggi dan bermartabat. Manusia yang dapat mengubah dunia.

You Might Also Like

1 Komentar

  1. tapi banyak bange sekolah yang tetep ingin memakai k13 ini. :) sebenarnya kurikulum ini bagus, tapi pengajar dan sekolah yang belum siap.

    BalasHapus

Mari berkomentar agar hati senang

Subscribe