2014: Tahun Kegagalan

15.22

Kurang dari 12 jam lagi, kita akan masuk ke taon berikutnya, 2015. Mungkin sebagian besar udah mulai nyiapin acara pergantian tahun, cari kembang api, makanan, atau bahkan udah ada yang booking tempat di Monas biar dapet tempat buat acara kembang api nanti malem.

Dari perjalanan panjang taun ini, ada yang menutup tahun dengan target-target yang terpenuhi. Udah nikah, bisa beli mobil sendiri, atau berhasil namatin game Pokemon. Namanya target, gak ada yang ngelarang. Namun bila ada positif, negatif selalu turut menyertai. Pasti juga ada yang menutup tahun dengan kegagalan. Atau mungkin kegagalan yang bertubi-tubi.

Dan buat gue, mungkin pilihan kedua yang gue alami tahun ini. Ya.

Gue gagal total tahun ini.

...

Sebelum membahas lebih jauh, di akhir tahun 2013 kemaren, gue membuat dua resolusi yang harus dicapai pada tahun 2014 ini, antara lain:

1. Pembaca blog tembus 500/hari
2. Buku gue diterbitin.

Dan mari gue jabarkan apa "pencapaian" gue setahun ini:

1. Nge-blog
2013 lalu, gue baru  nge-blog. Ibarat manusia, gue baru di tahap balita.  Masih buta soal cara bikin artikel yang bagus, struktur kalimat kacau balau (bahkan gue ragu cuma pasien rumah sakit jiwa yang bisa ngertiin arti kalimat gue), dan gue masih gak kenal dengan yang namanya SEO (Search Engine Optimization). Jangankan kenal, tahu kepanjangannya aja gue gak tau.

Tapi saat mulai mendalami nge-blog, dengan rajin baca artikel yang memang mengajarkan tentang blog atau beli buku-buku panduannya, perlahan gue mulai bisa merancang blog sedemikian rupa. Dan kemajuan terbaiknya adalah gue tau kepanjangan dari SEO. Akhirnya gue tau.

Jumlah visitor blog gue perhari dulu yang dapat dihitung pake tangan (malah gue curiga mereka nyasar ke sini karena ngira blog gue website porno), akhirnya dapat naik menjadi puluhan perharinya. Berawal dari situlah, gue menetapkan target di akhir tahun 2014 ini pembaca blog gue harus tembus 500 perhari. Gue yakin banget.

Hasil: GAGAL

Jangankan 500 perhari, setengahnya aja gak nyampe. Gue kira, hanya dengan bermodalkan SEO bisa menjadikan blog gue banyak dibaca orang. Gue kira orang bakal berbondong-bondong dateng kesini kalo posisi blog gue di search engine bagus.

Tapi gue lupa. Apa yang mau mereka baca begitu sampe di blog gue? Gak ada. Saking fokusnya ngurus SEO, gue lupa bahwa senjata utama dari sebuah blog ada artikel. Tanpa artikel, sebuah blog tidak berarti apa-apa. Jangan salah, blog penjual obat kuat pun ada artikelnya. Lah gue? Cuma update blog dua minggu sekali, itupun kalo mood gue lagi bagus.

Setelah meneliti blog-blog yang rame pengunjungnya pada November lalu, gue baru sadar bahwa kualitas sebuah blog ditentukan oleh kualitas artikel, bukan kuantitas banyaknya promosi blog yang gue lakukan. Maka dari bulan lalu, gue maksain buat minimal seminggu sekali ngepost. Gak peduli gue lagi bad mood, capek, ataupun sakit. Tapi gue masih belom tau apakah gue masih akan rutin nge-blog kalo kelindes truk tronton di jalan. Nanti gue kasih tau ya kalo udah pengalaman.


2. Nerbitin Buku
Awalnya gue pikir menulis adalah pekerjaan yang mudah. Cuma butuh rangkaian kata-kata indah dan imajinasi agar tersusun sebuah karya yang dapat menghasilkan jutaan hingga ratusan rupiah. Namun nyatanya, menyusun buku membutuhkan lebih dari itu.

Gue ngerasain hal itu saat pertama kali coba nerbitin buku pada tahun 2013. Tidak tahu apapun tentang seni tulis-menulis dan hanya dengan bermodalkan nekat, naskah pertama sukses gue susun dalam waktu yang sangat singkat, saking singkatnya gue yakin Ernest Hermingway akan bangkit dari kubur dan menertawakan isi naskah gue, naskah yang tidak jauh beda dengan buku diary anak tk yang baru belajar curhat.

Besok, gue langsung ngirimin naskah tersebut ke beberapa penerbit yang gue kenal. Dan tiga bulan kemudian, hasilnya keluar. Kalian bisa menebak hasilnya.

Hasil: GAGAL

Naskah gue ditolak serempak oleh beberapa penerbit tersebut. Kalian tau? Rasa sakitnya lebih-lebih dari ditolak oleh gebetan. Jauh.

Tapi gue gak berhenti disitu. Naskah gue perbaiki dan revisi, sehingga paling gak naskah gue upgrade jadi menyerupai buku diary anak sd yang baru belajar nulis. Lumayanlah. Gue kirimkan naskah tersebut (lagi) ke beberapa penerbit lain. Dan tiga bulan kemudian... Untuk yang kesekian kalinya gue kembali ditolak oleh belasan penerbit sekaligus.

Seiring waktu berjalan, gue mulai mendalami dunia menulis dan setidaknya mengerti kerangka dasar dari seni penulisan. Ditambah dengan catatan beberapa penerbit yang menolak sebelumnya turut membantu gue untuk memperbaiki cara gue menulis. Dan alhasil, awal tahun ini gue membuat naskah baru. Proses penggarapannya butuh waktu tiga bulan, jauh lebih lama dari naskah pertama dulu yang hanya butuh waktu  dua minggu buat proses penggarapannya.

Begitu selesai, gue gak mau ditolak lagi. Naskah gue kembali revisi berkali-kali, untuk memastikan karakter udah kuat, tidak ada lubang di plot, dan kesalahan pengetikan. Baru setelah selesai, gue kembali mengirimkan naskah tersebut ke sebuah penerbit mayor di Indonesia. Butuh empat bulan untuk waktu penilaiannya, sampe akhirnya.

Malam itu, gue mendapat sebuah email. Sebuah email dari penerbit mayor yang di subjectnya terisi "Keputusan Naskah". Badan gue langsung cenat cenut. Pengen langsung ngapus email itu tanpa membacanya, tapi nanti gue malah gak tau apa hasilnya dan jadinya terus-terusan di php. Gue gak mau jadi ikut-ikutan korban Vicky Prasetyo. Dengan sangat lambat dan hati-hati, email gue klik. Perlahan, isi email sepertinya mulai timbul. Dengan darah yang bergejolak tinggi, lambat-lambat gue intip. Dan gue terkejut melihat isinya. Isi emailnya, "No internet connection"

...

Hasil: GAGAL

Naskah gue yang kedua kembali ditolak, tidak jauh beda dengan naskah pertama. Seminggu setelah naskah gue ditolak, mungkin gue adalah orang yang paling tidak punya semangat hidup di dunia.

Tapi, perjuangan gue sampe sekarang sepertinya belum apa-apa jika dibandingkan dengan penulis beken macam J.K Rowling yang kabarnya harus ditolak 15 kali dulu oleh penerbit mayor sebelum buku Harry Potter diterbitkan oleh penerbit kecil. Gue juga bukan apa-apanya jika dibandingkan dengan novel Carrie yang penulisnya, Stephen Hawking harus terus memperbaiki naskahnya selama bertahun-tahun hingga sekarang novelnya dan versi filmnya menjadi best-seller dunia.

Jadi rasanya tidak ada alasan bagi gue untuk mengeluh, apalagi menyerah. Gue percaya dengan kalimat propaganda yang sangat bagus, "No pain, no gain." Gue sadar, semua kegagalan di tahun ini setidaknya memberikan gue banyak sekali ilmu menulis,blogging, juga pelajaran hidup.

Dan pada akhirnya, 2015.

Sekali ini, gue harus menang.

You Might Also Like

2 Komentar

  1. wahaha.. semangat.. semangat..
    btw gw juga nargetin nerbitin buku. kalo ga ada halangan naskah pengen gw kelarin dalam beberapa bulan..

    semangat gapai mimpinya gan.

    intip sini juga ya
    http://antsomenia.blogspot.com/2014/12/dari-makan-malam-hingga-menuju-pelangi_31.html
    http://antsomenia.blogspot.com/2014/12/hari-dimana-aku-melihat-kalian-lagi.html

    BalasHapus
  2. Tetep Semangat, Bro...
    usaha keras ga akan menghanati. ahaha

    BalasHapus

Mari berkomentar agar hati senang

Subscribe