Pertarungan Demi Sebuah Tempat Duduk

19.16

Di dunia ini, ada banyak orang yang berpendirian kuat. Gue salut dengan orang-orang tipe ini. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai motivasi hidup terencana dan teguh dengan rencana hidup mereka.

Tapi disamping berpendirian kuat, beberapa dari mereka ada yang "terlalu berpendirian kuat", sampai-sampai membuat mereka menjadi apa yang kita kenal sebagai "egois". Padahal mungkin, mereka sedang teguh dengan rencana mereka. Itu bagus, tapi mereka tidak tahu sudah kelewatan.

Cerita kali ini dimulai tadi siang, saat jam makan siang. Gue dan teman-teman memutuskan untuk makan siang di salah satu restoran fast food terkenal dekat sekolah. Sesampainya disana, bau ayam goreng khas restoran fast food asal Amerika itu sudah tercium dan hampir membuat gue khilaf. Ini gawat. Kalo khilaf, gue akan lupa diri lalu memukul-mukul meja disana sambil mengatakan, 'Mana ayamku! Berikan ayamku atau aku akan mulai membunuh orang-orang disini satu persatu.' Disini gue sudah mirip banget dengan pembajak Somalia. Tapi bedanya, pembajak Somalia pengen dapet duit, gue pengen dapet ayam goreng.

Setelah diamati, ternyata tidak ada satupun tempat duduk kosong yang sesuai dengan banyaknya kami, 8 orang. Semuanya penuh. Karena kami sudah terlanjur disana, gue mengusulkan untuk duduk di meja-meja kecil dulu sambil menunggu pelanggan yang duduk di meja pergi.


Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Lima belas menit. Tetap tidak ada satupun yang pergi dari meja-meja besar disana. Mereka bahkan sepertinya belum sampai menghabiskan setengah makanan mereka. Ini benar-benar gawat, gue mulai mencari senjata tajam untuk menodong penjual ayam jika kepepet.

Sebentar, salah satu rombongan yang menduduki meja besar disana pergi. 'Nah, yuk buruan dudukin, tuh.' Ajak gue.

Ketika kami tepat di depan meja tersebut dan jalan kami seperti jalan menunggu surga, tiba-tiba seorang abg cewek yang membawa sup ayam dan Mocca Float di nampannya, duduk di meja yang sudah seperti surga bagi kami, sepersekian detik lebih cepat.

Kami terdiam. Keheningan total terjadi sejenak.

Alvin, salah seorang dari rombongan kami memberanikan diri meminta tempat duduk ke cewek tersebut, 'Maaf mbak, boleh kami minta tempat duduknya? Jumlah kami banyak, gak muat di meja lain.' Kata Alvin.

Cewek abg yang mempunyai alis mata sangat tipis, atau mungkin tidak memiliki alis mata itu memandang Alvin sebentar, lalu mulai memakan sup ayamnya tanpa menghiraukan Alvin sama sekali.

Keningan total kembali terjadi.

Kami kembai ke meja kecil tadi.

'Pindah aja, yuk.' Ajak seorang teman kami.

'Gak. Gue gak mau.' Kata gue. 'Kita tunggu sebentar lagi aja. Toh, dia cuma makan sup ayam doang.'

Kami menunggu cewek tersebut dengan harapan dia cepat-cepat pergi.

Ternyata cewek itu benar-benar menguji batas kesabaran kami. Cara makannya yaitu makan sup sesendok, main hp 5 menit, lalu makan sup lagi dan seterusnya membuat kami greget dan ingin mengontak Mak Erot untuk menyantetnya (emang bisa?).

'Mau sampe kiamat nungguinya?' Tanya Alvin.
Gue memperhatikan cewek tersebut sepertinya belum menghabiskan 1/4 dari porsi supnya dan lebih sering melihat hpnya dibandingkan memakan sup ayamnya. Kalo semua pelanggan restoran seperti cewek ini, restoran itu pasti akan bangkrut dalam hitungan bulan. 'Gue gak tahu lagi, deh.' Kata gue.

'Gimana kalo kita serang aja?'

'Serang maksudnya?'

'Kita paksa duduk di sebelahnya.'

Rencananya, kami akan mengirimkan 3 gelombang pasukan untuk duduk paksa di meja tersebut. Gelombang pertama dipimpin oleh Alvin dan dua orang anak. Gelombang kedua dipimpin oleh gue dan dua anak lain. Dan gelombang ketiga sisanya. Rencana tersusun. Kalo di film perang, kami diibaratkan seperti sebuah tim elit yang akan berperang demi mengambil alih wilayah musuh. Kami menamai operasi ini "Operasi Militer Penjajahan Tempat Makan." ini keren.

Pertarungan dimulai. Alvin dan gerombolannya maju menyerang duluan dan duduk di sebelah cewek abg itu. Cewek itu melihat sebentar lalu menghiraukannya.

Sepuluh menit berlalu, cewek itu terlihat tidak terganggu dan malah belum menghabiskan 1/2 dari porsi sup ayamnya. Alvin memberikan kode supaya kami menunggu lebih lama.

Lima belas menit berlalu, sup ayam cewek tersebut sudah hampir habis. Kami sudah bersiap untuk langsung menyerbu tempat duduk itu dan berteriak 'Merdeka!'. Tapi harapan kami pupus begitu melihat seorang mas-mas KFC yang mengantarkan sebungkus burger keju ke cewek tersebut.

Ini mengerikan. Jika untuk menghabiskan semangkok sup panas saja membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit, mungkin cewek itu harus menginap semalam disana demi menghabiskan burger yang baru diantar.

Alvin memberikan tanda agar gelombang kedua menyerbu. Gue dan teman-teman lain menuju ke medan pertempuran dan duduk disana. Ada seorang dari kami yang berani duduk di sebelah musuh kami, cewek "jahat" abg.

Lima belas menit kami telah duduk disana dan berbicara dengan suara yang agak keras dengan maksud mengganggu, si target malah tidak menghiraukan dan bahkan belum menghabiskan setengah porsi dari burgernya. Di satu sisi gue salut, ternyata ada cewek yang memiliki pendirian sekuat ini. Dia mungkin adalah cewek-cewek cerminan Kartini yang dibutuhkan oleh bangsa. Tapi di satu sisi, pendirian kuat cewek ini salah waktu.

Akhirnya dengan penuh penantian, burger telah sukses dihabiskan. Lagu We Are The Champion seperti berkumandang di antara kami. Disaat cewek tersebut bersiap untuk meninggalkan medan pertempuran, hujan tiba-tiba turun dengan sangat deras. Cewek itu duduk kembali dengan manis. Kampret.

Jika gue sedang diibaratkan seperti pemeran utama dalam game Grand Theft Auto 5, gue akan menghampiri si cewek lalu menembakinya dengan gatling gun atau membakar badannya dengan bom.

Setelah jatuh bangun menunggu, hujan reda, si pun target pergi. Kami menang. Gue langsung menyuruh teman-teman yang tersisa agar cepat duduk disini dan secepatnya memesan makanan sebelum gue khilaf.

Di saat teman-teman gue sudah dekat untuk duduk di tempat ini, dua orang cewek abg tiba-tiba duduk di meja kami sambil membawa satu ember ayam penuh.

Gue seketika jadi Hitler.

You Might Also Like

0 Komentar

Subscribe