London, Wait for Me

20.28

Setiap orang setidaknya memiliki satu tempat yang ingin dia kunjungi sebelum meninggal. Bagi kebanyakan orang, mereka memilih mengunjungi kota-kota besar di dunia seperti Los Angels atau New York. Ada juga yang lebih memilih untuk pergi ke kota bersejarah seperti Mesir atau Yunani. Bagi pria berhidung belang, mereka biasanya akan memilih kota pantai seperti Bali atau Hawai untuk dikunjungi. Alasannya sederhana, karena mereka mendapat dua keuntungan sekaligus: menikmati keindahan sunset sekaligus susu-susu segar yang bertebaran sepanjang pantai. Memang menggiurkan.

Gak ketinggalan, wanita juga memiliki tempat yang ingin dikunjungi sebelum dia meninggal. Biasanya, mereka akan memilih tempat-tempat romantis seperti Menara Pisa di Italia atau Tiang Listrik tertinggi dunia yang menjadi dambaan para wanita, Menara Eifel. Ini lumayan bikin gue heran. Kenapa banyak sekali cewek yang rela bayar tiket mahal-mahal ke Paris cuma demi berfoto di depan menara Eifel? Dan yang lebih membingungkan lagi, apa beda Menara Eifel dan menara sutet di Indonesia? Hampir tidak ada bedanya. Sama-sama terbuat dari besi, sama-sama tinggi, dan sama-sama harus dipanjat jika ingin sampai ke atasnya. Mungkin semakin tinggi menara sutet, maka wanita akan menganggapnya semakin romantis. Ini peringatan untuk presiden Indonesia berikutnya supaya secepatnya membangun menara Sutet yang tingginya melebihi menara Eifel untuk menarik wisatawan wanita.

Tapi dari semua kota-kota di dunia, gue lebih memilih untuk mengunjungi suatu kota yang dikenal sebagai kota paling beradab di dunia, kota dimana David Beckham lahir, dan kota dimana girlband One Direction dibentuk: London.

Sebelum melangkah lebih jauh, alasan gue untuk pergi ke London bukanlah karena tergoda oleh paha seksi Victoria Beckham ataupun disebabkan brewok imut Robert Pattinson. Alasan gue harus ke London, adalah:

Anfield


Sebagai seorang pecinta bola yang kesehariannya dihabiskan dengan menonton bola di stadion yang berakhir dengan tawuran antar supporter (kadang sesama supporter. Tergantung mood lagi mau berantem sama siapa), pergi ke stadion terkenal di dunia jelas menjadi cita-cita gue sejak pertama kali mengenal sepakbola. Stadion-stadion elit di luar negeri jelas memiliki beberapa perbedaan dengan stadion Indonesia, antara lain:

Pemain Bola
Stadion elit berimbas kepada permainan yang elit pula. Disana, pemain dari kedua tim bersaing keras tapi kompetitif untuk memenangkan pertandingan. Mata kita akan disuguhi dengan permainan-permainan berkelas nan cantik dari kedua tim. Ini jelas berbeda dengan Indonesia yang permainannya kebanyakan menerapkan teknik 3T: Tendang - Tinju - Tonjok. Gue kadang salah membedakan sepak bola dengan Smackdown.

Penonton
Inilah faktor yang sangat menunjukkan perbedaan stadion elit dan stadion Indonesia. Di stadion elit, dapat dipastikan hampir semua penontonnya duduk tertib saat menyaksikan pertandingan dan tidak ada aksi-aksi anarkis. Sekarang mari kita bandingkan dengan penonton di Indonesia, dimana kebanyakan berteriak-teriak tidak jelas saat pertandingan dan ditutup dengan tawuran antar supporter, tidak peduli apakah timnya menang atau kalah, yang penting tawuran dulu.

Gue memilih Anfield karena kebetulan gue adalah pendukung setia The Kop. You'll Never Walk Alone!


Buckingham Palace


Kebanyakan dari kalian, terutama penggemar sejati Super Junior (sebenarnya gak ada hubungannya) pasti sudah mengenal kerajaan bersejarah satu ini, Buckingham Palace. Tempat dimana Ratu Elizabeth tinggal, tempat dimana Pangeran Charles buang air, dan tempat dimana Pangeran William dan Kate Middleton memadu kasih untuk membuat Pangeran George... Mari kita lupakan yang terakhir.

Jika misalnya gue berada di depan gerbang kerajaan, tidak dapat dijelaskan lagi betapa akan senangnya gue saat itu. Mungkin gue akan menari kecak di depan istana untuk mengungkapkan kegembiraan, selife dengan salah satu penjaga disana, dan ditutup dengan numpang buang air besar di kerajaan. Tapi rasanya biasa saja jika gue hanya datang melihat  Buckingham Palace dan pergi begitu saja. Untuk dari itu, jika suatu saat gue benar-benar pergi ke sini, gue berjanji akan membawa harum nama Indonesia.

Caranya?

Gue akan membawa bendera Merah Putih ke depan gerbang kerajaan lalu berteriak "Merdeka!". Setelah itu, gue akan berusaha menerobos masuk dan mengganti bendera Inggris di puncak kerajaan dengan bendera Slank. Mungkin setelahnya, gue dapat memenuhi mimpi kecil gue untuk tinggal di London selamanya, tapi sebagai tahanan penjara seumur hidup.


Cewek-Ceweknya
Siapa cowok sejati yang gak kepengen buat melihat cewek Inggris, yang termasuk kategori tercantik di dunia secara dekat? Kita dapat menikmati pemandangan bidadari disini, sejenak melupakan pemandangan kelam di Indonesia dimana mata kita dipaksa berakomodasi melihat banyak sekali cewek hitam berperut buncit memakai hotpants.

Cewek Inggris

Si seksi asal Indonesia


Big Ben

Rasanya tidak lengkap pergi ke Inggris tanpa mengunjungi lambang kota London satu ini: Big Ben, jam dinding terbesar di dunia. Gak heran kenapa orang-orang disana gak pernah ngaret. Jam dindingnya aja segede ini.

Tapi jika dilihat agak lama, Big Ben hanyalah sebuah jam biasa yang berukuran sangat besar. Ini gawat! Bagaimana jika semua orang bosan dengan Big Ben dan menganggap jam tersebut tidak menarik lagi? Para wisatawan akan pergi karena bosan, harga Pound Sterling anjlok, David Beckham bangkrut dan memilih buat main film sinetron naga terbang di Indonesia. Ini mengerikan.

Untuk itu, jika gue diberikan kepercayaan oleh Ratu Inggris, gue akan mengusulkan suatu gagasan untuk mengubah tampilan Big Ben agar lebih menarik:

Lihat di bawah jarum jam

Sekian alasan kenapa gue memilih London sebagai tempat yang ingin gue kunjungi. Berapa lamapun, apapun hambatannya, London, Wait for Me.

Masih utuh
5 detik kemudian

You Might Also Like

0 Komentar

Mari berkomentar agar hati senang

Subscribe