Keraguan Lab Kimia

12.39

Siang kemaren saat pelajaran Kimia, diadakan praktikum di laboratorium kimia. Gue dan anak-anak duduk terbagi menjadi enam meja. Satu meja kira-kira diisi oleh 6 orang anak.

Gue sendiri duduk di meja yang terletak agak tengah dan sekaligus meja yang gue duduki tersebut adalah meja yang keadaanya paling panas karena jauh dari kipas angin. Ketek gue ngamuk. Di sebelah gue, duduklah Edi, temen sekelas gue yang memiliki kelebihan flek hitam di muka dan mungkin juga di daerah pusarnya.

Praktikum dimulai, pak Bayu, guru fisika gue masuk ke dalam kelas.

‘Selamat siang anak-anak,’ Sapanya. ‘Hari ini, kita akan praktikum. Sebelumnya, akan bapak perkenalkan kalian kepada alat-alat di sekitar kalian,’ 
Gue cuma mangut-mangut ga ngerti apa yang barusan diomongin Pak Bayu.
           
Pak Bayu mengambil sebuah kayu yang mirip seperti penjepit. Sampai fase ini, gue menyimpulkan kayu yang mirip penjepit tersebut adalah penjepit bulu ketek.

‘Anak-anak, ini adalah penjepit tabung reaksi,’ kata pak Bayu, ‘Fungsi dari alat ini adalah untuk menjepit tabung reaksi.’

Gue mengerti, alat tersebut ternyata bukan alat penjepit bulu ketek, tapi alat penjepit tabung reaksi yang juga dapat digunakan sebagai penjepit bulu ketek. Pinter.


Pak Bayu beranjak ke alat berikutnya, dia mengambil sebuah alat yang menyerupai minyak tanah dan botolnya.

‘Ini adalah pembakar spirtus, fungsinya adalah untuk membakar dan memanaskan zat diatasnya.’

‘Kenapa ga pake korek api aja untuk membakar zat, pak?’ Tanya Edi

‘Begini nak, ada beberapa hal yang menyebabkan kita harus memakai pembakar spirtus dalam praktikum kimia, seperti... Ah, pokoknya kita harus memakai pembakar spirtus.’
Gue yakin, pulang ini pak Bayu mau googling dulu.

‘Alat satu ini termasuk sebagai alat yang berbahaya, ada yang tahu kenapa?’ Pak Bayu mengajukan pertanyaan.

Sepuluh detik berlalu, tiga puluh detik berlalu, satu menit berlalu, tidak ada murid yang mengangkat tangan atau mengucapkan sepatah kata pun.

‘Oke, bapak akan menjelaskan kenapa alat ini berbahaya.’ 
Pak  Bayu ngobrol sendiri.

‘Alat ini disebut berbahaya, karena cairan di dalamnya sangat mudah terbakar,’ jelas pak Bayu, ‘Kalo cairan di dalamnya tumpah sedikit saja dan ada api disekitar cairan yang tumpah tersebut, maka cairannya pasti akan terbakar dan dapat membakar barang atau bangunan disekitar.’
Sip, besok sekolah gue kebakaran.

Pak Bayu mengambil alat terakhir, sebuah larutan di dalam botol.

‘Kalo yang ini, namanya asam sulfat,’ kata pak Bayu, ‘Asam ini sangat berbahaya karena kalo sedikit saja asam ini mengenai kulit manusia, kulit tersebut akan langsung terbakar dan bisa berlubang.’ 
Edi mangut-mangut takjub. Gue pengen nyirem asam sulfat ke muka Edi.
        
Ternyata, laboratorium Kimia menyimpan banyak sekali alat yang berbahaya untuk keselamat manusia. Gue jadi membayangkan, sebenarnya alat kimia tersebut dapat dijadikan sebagai alat kejahatan.

Contoh saja pembakar spirtus, bagaimana kalo alat ini dilempar dalam jumlah besar ke bangunan penting seperti warteg atau wc umum? Yang pertama, bangunan tersebut pasti hangus. Dan kenapa gue menyebut bangunan itu adalah bangunan penting? Karena tanpa warteg, kita akan mati kelaparan. Sedangkan tanpa wc umum, kita akan mati mengenaskan karena pembengkakkan eeq di pantat. Sadis.

Apalagi dengan asam sulfat? Bagaimana kalo ada penjahat yang menyandera pejabat-pejabat pemerintah dengan asam sulfat? 

‘Kalo sedikit saja anda bergerak, akan saya tumpahkan asam sulfat ke lubang hidung anda agar lubang hidung anda bergabung menjadi satu. '
Kalimat ancamannya ga gaul ya.

Bel tanda pelajaran berbunyi, imajinasi gue terpecah, gue kembali jadi waras.

You Might Also Like

1 Komentar

Subscribe